Skip to main content

Cried

I cried watching this.


(Menangis aku melihatnya.)


It sums up in a way what I try to tell myself and fellow women out there too.


(Sesuatu yang tepat sekali merumuskan apa yang cuba kuberitahu kepada diri dan wanita di luar sana.)



At the age of attaining perfect skin, perfect figure, perfect everything - we lose sight of how it traumatised everyday women watching the ‘perfection’. 


(Di zaman mengejar kulit yang sempurna, bentuk badan sempurna - kita terlepas pandang bagaimana ianya mencetus trauma kepada wanita biasa yang menonton ‘kesempurnaan’ tersebut.)


ALL of us are everyday women. We must never forget that. 


(Jangan lupa - KITA SEMUALAH wanita biasa tu.)


Don’t let the definition of beauty narrows - especially among us women.


(Jangan benarkan definisi cantik seseorang perempuan disempit - terutama dari kalangan perempuan sendiri.) 


#empower

Note: I’ve edited the post to have Malay translation in the brackets.






Comments

Popular posts from this blog

Melepaskan

Jam di dinding menunjukkan 8.47pm. Aku sedang menunggu ketibaan suami di rumah. Baru tadi aku selesai memasak dinner. Alhamdulillah. Cukuplah rasanya kari ikan bawal hitam, berteman sayur kobis & ikan masin untuk kami menjamu selera dengan nasi malam ini. Rezeki. Kalau di zaman bujang dulu cukup berat aku nak ke dapur. Mungkin inilah yang dikata lumrah bila dah berumahtangga. Memasak tak lagi terasa berat seperti dulu. Dalam seminggu dua ini banyak aku bermuhasabah diri - tentang melepaskan perkara-perkara yang berlalu dan yang terjadi. Barangkali kesan terapi yang kujalani sepanjang merawat sakit depresiku telah mengajarku cara ‘melepaskan’ ini. Dulu, hatiku sering terbeban dengan perkara-perkara ‘jika ini’, ‘jika itu’ sehinggakan aku tidak berada ‘in the moment’ dalam hidupku. Otakku sentiasa ligat memikirkan hari semalam apa yang jadi, esok lusa apa pula munculnya.  Ternyata hal-hal itu telah merampas nikmat diriku untuk berada in the moment. Lantaran aku juga tersangkut pen...

Hibernation

Yes, I have to admit. I was being quiet recently. It was quite an episode and a busy time in January. Alhamdulillah, praises to The Lord that I’m able to write again at this moment. I miss you, my readers. But also, I’ve missed myself in those quiet time. Also in that time, I embarked in the journey of hybernation. Like bears, you know. They take time (once a year I think) to hibernate during winter (there, now I’m sure it’s once per year.) I was always reluctant to embrace hybernation as I thought it is for the weak - which is something I’m most afraid of portraying to people around me. Gotta work on that issue, I know. My mind is always busy with, “I got to do this, owh this hasn’t been done yet, should I do those instead” kind of thing. So obviously I need to put a stop to that and collect back my thoughts. The only thing I’ve kept myself occupied and focused on was my work. Since January is the time where I need to work on some company’s restructuring projects, I took the liberty t...

Cantik Muka

Assalamualaikum. Cantik. Semua wanita ternaluri menginginkannya. Pelbagai jenis cantik dicipta olehNya di dunia. Kebelakangan ini hatiku terusik merungkai satu perkara. Jenis cantik muka yang semakin kulihat dipapar sini sana. Tatarias muka (make up), makin hari makin banyak langkah-langkahnya. Power of make up banyak menjadi mentera. It’s an art, itu justifikasi yang diguna merata. Diusia tiga puluhan, aku tidak lagi terganggu dengan pelbagai cereka. Yang kukhuatir anak-anak gadis yang baru mendunia. Apa di sekeliling mereka itulah gurunya. Apa aku punya dendam dengan make up? Tiada. Masih lagi hari ini bersesuai masa kutepek bedak & gincu juga. Jadi apa isunya? Yang buat terusik hati wanitaku adalah kerana aku wanita Melayu, Asia Tenggara kedua, Asia ketiga dan seterusnya. Wajah kita unik dan tersendiri. Asian beauty, masih lagi bererti. Atau masih betulkah itu realitinya kini? Gusar juga kulihat wajah-wajah yang diangkat - bermata biru berkening coklat. Kulit harus putih merah, ...