Skip to main content

You is Good Enough

Tiba-tiba saya tersedar yang kebelakangan ni saya banyak sebut "You is good enough."


Sumber: Instagram @inspiredandfabulous

Tak kira lah pada diri sendiri ke atau dekat orang lain. Jadi saya terfikir kenapa kata-kata tu asyik bermain di fikiran saya?

I found myself feeling very empowered when I hear or say this. Tak pasti dari buku self help mana yang saya kali pertama ternampak kata-kata ni. Tapi sejak saat itu memang ianya menjadi mantra positif kepada saya.

Why?

Sebab untuk rasa diri sendiri ni good enough no matter what situations that come around myself, is a very powerful thing. Bukanlah maksudnya buat apa-apa pun kita rasa diri kita bagus. But it is more on kita rasa bersyukur dan berlapang dada tak kira apa pun yang dihantar dalam hidup kita.

Sebab kita tahu, at the end of the day, hanya Allah SWT yang faham siapa kita dan hanya Dia yang perlu kita impress dalam hidup kita.

How?

Just keep doing what you're doing in your life. Never compare your journey with others. And be thankful of who and what you have around you. And be thankful of YOU.

You see people with beautiful life. Alhamdulillah, that is good for them. But remember, your journey of life is beautiful enough too. So good for you (a proud tap on your own shoulder please). Even more special because it is you yourself who deal with you.

When?

Right now, at this moment and beyond. Kita mudah untuk rasa, "Okay, when the time is right I will be happy." Sedangkan, inilah dia masanya. Right where and when you are right now. You don't have to wait or hope to be happy with yourself. You just is, and do.

So?

So I don't know if you can really get what I am trying to say here. Inspirasi ni datang tiba-tiba dan saya rasa I just need to let it out. If it is useful or relatable to you, I'm thankful. Whoever that is reading this, all I want to say is, "I believe that you are good enough, smile 🙂".

Maklumbalas boleh dihantar ke emel saya.

Comments

  1. Oh, tak ada butang kike jd sy kasi thumb up kat sini����

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Melepaskan

Jam di dinding menunjukkan 8.47pm. Aku sedang menunggu ketibaan suami di rumah. Baru tadi aku selesai memasak dinner. Alhamdulillah. Cukuplah rasanya kari ikan bawal hitam, berteman sayur kobis & ikan masin untuk kami menjamu selera dengan nasi malam ini. Rezeki. Kalau di zaman bujang dulu cukup berat aku nak ke dapur. Mungkin inilah yang dikata lumrah bila dah berumahtangga. Memasak tak lagi terasa berat seperti dulu. Dalam seminggu dua ini banyak aku bermuhasabah diri - tentang melepaskan perkara-perkara yang berlalu dan yang terjadi. Barangkali kesan terapi yang kujalani sepanjang merawat sakit depresiku telah mengajarku cara ‘melepaskan’ ini. Dulu, hatiku sering terbeban dengan perkara-perkara ‘jika ini’, ‘jika itu’ sehinggakan aku tidak berada ‘in the moment’ dalam hidupku. Otakku sentiasa ligat memikirkan hari semalam apa yang jadi, esok lusa apa pula munculnya.  Ternyata hal-hal itu telah merampas nikmat diriku untuk berada in the moment. Lantaran aku juga tersangkut pen...

Hibernation

Yes, I have to admit. I was being quiet recently. It was quite an episode and a busy time in January. Alhamdulillah, praises to The Lord that I’m able to write again at this moment. I miss you, my readers. But also, I’ve missed myself in those quiet time. Also in that time, I embarked in the journey of hybernation. Like bears, you know. They take time (once a year I think) to hibernate during winter (there, now I’m sure it’s once per year.) I was always reluctant to embrace hybernation as I thought it is for the weak - which is something I’m most afraid of portraying to people around me. Gotta work on that issue, I know. My mind is always busy with, “I got to do this, owh this hasn’t been done yet, should I do those instead” kind of thing. So obviously I need to put a stop to that and collect back my thoughts. The only thing I’ve kept myself occupied and focused on was my work. Since January is the time where I need to work on some company’s restructuring projects, I took the liberty t...

Cantik Muka

Assalamualaikum. Cantik. Semua wanita ternaluri menginginkannya. Pelbagai jenis cantik dicipta olehNya di dunia. Kebelakangan ini hatiku terusik merungkai satu perkara. Jenis cantik muka yang semakin kulihat dipapar sini sana. Tatarias muka (make up), makin hari makin banyak langkah-langkahnya. Power of make up banyak menjadi mentera. It’s an art, itu justifikasi yang diguna merata. Diusia tiga puluhan, aku tidak lagi terganggu dengan pelbagai cereka. Yang kukhuatir anak-anak gadis yang baru mendunia. Apa di sekeliling mereka itulah gurunya. Apa aku punya dendam dengan make up? Tiada. Masih lagi hari ini bersesuai masa kutepek bedak & gincu juga. Jadi apa isunya? Yang buat terusik hati wanitaku adalah kerana aku wanita Melayu, Asia Tenggara kedua, Asia ketiga dan seterusnya. Wajah kita unik dan tersendiri. Asian beauty, masih lagi bererti. Atau masih betulkah itu realitinya kini? Gusar juga kulihat wajah-wajah yang diangkat - bermata biru berkening coklat. Kulit harus putih merah, ...